Jumat, 04 Juli 2014

Ayah dan Ibu Ku

Aku terlahir didunia ini mustahil jika tanpa peran seorang ayah apalagi tanpa adanya ibu. Tanpa ayah aku tidak ada didunia ini, dan tanpa ibu aku pun tidak bisa melihat dunia ini. Jadi menurut ku, ayah dan ibu perannya sangat penting. Namun kalau menurut hadist Nabi, memang beliau sangat memuliakan seorang ibu, sebab jika diketahui faktanya memang peran seorang ibu sangatlah sangat banyak dan bahkan peran seorang ibu sangat mulia dihadapan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Ibu.. adalah satu panggilan yang tak asing. Ibu, Bunda, Mama, Umi, dan masih banyak lagi panggilan yang digunakan untuk menyeru panggilan sosok yang telah berjasa sangat kepada kita. Seorang ibu adalah sosok malaikat yang tidak mempunyai sayap. Ibu adalah seseorang yang sangat indah, anggun, cantik, baik, mempunyai perasaan lembut, perhatian, dan segala kebaikan pujian bagi Ibu.
Tanpa ibu, kita tidak bisa melihat dunia, tanpa ibu kita tidak bisa membau sejuknya dunia, tanpa ibu pula tidak bisa kita mengerti apa artinya dunia.
Ibu, adalah satu kata yang sangat menusuk hati.
Ibu berjuang penuh selama Sembilan bulan lamanya. Kesakitannya ketika ia mengandung kita, telah terkalahkan dengan bahagianya sosok janin yang ada dirahimnya. Ibu, selama mengandung Sembilan bulan tidak pernah mengeluh dengan kesakitannya ketika telah menginjak umur 7-9 bulan.
Awal seorang ibu setelah mengetahui jika ia mulai mual-mual, dia bingung, apakah yang sedang terjadi pada dirinya. Badannya sungguh sangat sakit, mual yang ia rasakan sangat aneh. Seperti masuk angin, tapi tidak. Ingin rasanya muntah, tapi yang keluar hanyalah ludah yang kental. Aneh rasanya didalam perutnya. Namun Ibu mulai melihat ke kalender, bergegas ke apotik untuk membeli tespek, apakah benar dugaannya atau tidak. Setelah ia menunggu hasil tespeknya, ternyata ia positif hamil. Dia tersenyum lebar, dan bersujud atas karunia Allah yang Dia berikan kepada Ibu. Bergegas ia mengambil air wudlu dan sholat sunnah dibarengi dengan sujud syukur kepada sang Ilahi, sebab Dia telah memberikan rezeki yang tak ternilai. Dalam sujudnya..
ya Allah, sungguh karunia dan rezeki yang tak ternilai adalah Engkau memberikan kami, hamba-Mu amanah yang sangat berharga, amanah yang sangat besar bagi kami. Rezeki yang selalu didambakan oleh setiap sepasang suami dan istri. Ya Allah, sungguh mulia rahmat dan rezeki yang Engkau berikan kepada kami. Engkau telah mempercayai kami, untuk merawat hamba-Mu yang mungil dan lucu ini. insyaAllah kami akan menjalankan amanah-Mu, kami akan menjalankan seluruh apa yang disunnahkan Nabi ku, yakni memberikan pendidikan yang baik dan sesuai dengan syari’at mu. Izinkan kami untuk merawatnya ya Allah”
Sungguh mulia dan bahagia hati seorang Ibu jika ia mendapatan karunia terbesar dari sang Pencipta, yakni Allah SWT. Kabar bahagia ini lalu Ibu kabarkan kepada suaminya.
Kebahagiaan tercuap selalu dari sepasang suami dan istri ini.
Kokohnya seorang Ibu untuk menjaga janin titipan Allah itu dengan baik da betul. Semua apa yang diperintahkan suaminya, Ibu pun selalu mentaatinya. Masuk umur 3-4 bulan, Ibu mulai merasa berat dengan perutnya. Tidur terlentang rasanya tidak enak, tidur miring rasanya juga tidak enak. Berat rasanya perut sang Ibu. Gumam hatinya dalam setiap sholat malamnya…
“inikah yang dirasakan setiap ibu saat janin yang ada dirahimnya mulai diberikan ruh oleh Allah. Ya Allah sungguh berat dan sakit. Namun, aku telah berjanji pada diri ku akan tetap bertahan. Kesakitan ini belum seberapa bagi ku. setelah ini pasti da kesakitan yang sangat lagi.. dan aku harus bisa melewatinya. Ya Allah bimbinglah hamba atas kesakitan ini ya Allah. Aamiin”
Sakit demi sakit Ibu mulai rasakan. Namun, tak pernah Ibu hiaraukan kesakitan itu. Ibu mulai merasa tidak enak lagi dalam perutnya. Setiap satu bulan sekali, Ibu selalu memeriksa perkembangan calon bayinya. Kebahagiaan pun selalu tercuap dari setiap sepasang suami istri jika Allah selalu memberikan perlindungan kepada calon bayinya. Sehat !! itulah yang selalu terucap dari mulut dokter spesialis kandungan.
Hari semakin maju. Kandungan pun sudah memasuki umur tujuh bulan. Ibu mulai merasakan kesakitan karena perutnya yang semakin membesar. Namun, peran ayah itu selalu mensupport Ibu.
Bulan sudah memasuki bulan ke delapan usia kehamilan. Ibu dan ayah mulai merencanakan pakaian, peralatan sang bayi. Pada usia ke delapan Ibu dan ayah pun mulai berbelanja semua perlengkapan bayi. Mulai dari pakaian, botol minumnya, tempat tidurnya, bantal, guling, dan semuanya. Memasuki usia bulan ke delapan akhir, Ibu mulai merasakan dahsyatnya sakit pada bagian vaginanya. Perutnya mulai berkontraksi sangat sakit. Namun, tasbih dan Al-Qur’an selalu ada digenggamnya.
Memasuki usia ke Sembilan bulan, sang Ibu mulai merasakan sakit. Ya.. air ketubannya mulai membedah perlahan-lahan. Peran seorang ayah, disinilah sangat dibutuhkan. Sewaktu-waktu sangat benar-benar Ibu butuhkan. Ketika merasakan kesakitan, Ibu menghibur dan menenangkan jiwanya dengan Iqro’ Al-Qur’an.
Tanggal yang dipastikan Ibu akan melahirkan pun tepat. Ibu pun mulai pendarahan hebat. Ayah pun, langsung membawanya ke rumah sakit. Memegang tangan Ibu, membacakan sholawat terus menerus tanpa henti agar Ibu tenang ketika melahirkan. Setibanya dirumah sakit, Ibu berusaha mengeluarkan aku dengan jeritan, dan ayah tetap memgang tangan Ibu dengan membacakan sholawat terus tanpa henti.
Gumam Allah dengan ku..
“engkau akan bersama malaikat yang akan selalu bersama mu dan akan selalu menemanimu, membimbingmu, menyayangimu, mengajari mu akhlak , dan dia yang akan mengajarimu bagaimana berkomunkasi dengan-Ku, dia juga yang akan merawatmu,menjagamu, dengan kelembutan hatinya yang tulus. Jangan kau sakiti hatinya patuhi segala perintahnya. Itu pesan-Ku untuk mu. Suatu saat kita akan bertemu kembali”
Dengan perjuangannya, aku pun keluar dari rahim Ibu. Aku mendengar Ibu dan ayah selalu mengucap kalimat sholawat. Setelah aku dimandikan, aku merasa tenang dengan adzan yang ayah kumandangkan dikuping ku. aku pun merasa tenang dalam tutupan mata ku yang belum bisa menatap ayah dan Ibu. Aku mendengar Ibu selalu membaca sholawat dan takbir. Namun, suara Ibu semakin tidak terdengar oleh ku, yaa karena aku dibawa oleh suster ke ruang incubator. Sebab aku belum bisa beradaptasi dengan suhu dunia luar.
Beberapa hari kemudian, aku diberi nama yang indah. Nama yang telah ayah dan Ibu sepakati untuk panggilan ku.
###
Badan ku pun semakin membesar. Jenjang sekolah TK, SD, SMP. Aku masih patuh dengan apa yang diperintahkan kedua orang tua ku. membantu pekerjaan rumah sudah menjadi rutinitas ku, belajar adalah keseharian ku, dan membuat bangga dan bahagia ayah dan Ibu sudah menjadi langganan akhlak ku untuk ayah dan Ibu. Keinginan ku untuk mengahafal Al-Qur’an, keinginan ku untuk belajar di Al-Ma’had pun sangat tinggi, keinginan ku untuk lebih memperdalam Ilmu agama ku pun bagaikan pohon yang semakin hari semakin tinggi. Kehidupan ku pun selalu aku warnai dengan kebaktian ku terhadap ayah dan terutama kepada Ibu. Apa yang Ibu inginkan semuanya pasti aku turuti. Ibu menyuruhku untuk ini, itu pun aku turuti. Tida ada yang absen dalam kehidupan ku untuk mentaati semua perintahnya. Masjid pun tidak pernah absen dari dhuhur sampai dhuhur menjelang lagi. Al-Qur’an selalu khatam dalam jangaka waktu satu bulan.
Namun..
Setelah aku menginjak tanah SMA. Aku mulai berubah. Aku bukan menjadi aku yangs elalu berbakti kepada Allah, dan perintah ayah dan Ibu. Aku selalu membuatnya menangis atas akhlak ku yang nggak karuan. Semua keinginan itu telah musnah dan rasanya itu adalah keinginan yang tak ternilai dan aneh serta keinginan yang sangat buruk bagi ku. belajar.. sangat jarang. Setiap hari aku hanya memegang hp, hp dan hp. Tak pernah absen untuk membantu pekerjaan rumah, bukan hal itu lagi, melainkan tak pernah absen untuk selalu maksiat bersama teman-teman.
Aku sungguh sangat sudah tidak memperdulikan ayah dan Ibu, tidak memperdulikan bacaan Al-Qur’an ku, tidak memperdulikan tanggung jawab ku membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tidak memperdulikan kekhawatiran dan keperdulian ayah dan Ibu, aku tidak memeprdulikan bagaimana cemasnya mereka dengan akhlak ku yang saat ini, bahkan yangs ebelumnya aku menjadikan sholat malam adalha kewajiban ku, kini menjadi seuatu barang yang wajib untuk ditinggalkan. Semuanya telah berbeda, yaa ssangat berbeda. Setelah aku mengenala apa itu PACARAN dan setelah aku mengenal indahnya maksiat.
Tak pernah terpungkiri sebelumnya, ternyata aku bisa menjadi sebodoh ini setelah aku mulai mengenal laki-laki, setelah aku berani pacaran dan maksiat.
Aku selalu telah menganggap ayah dan Ibu itu mati, padahal jasadnya jelas-jelas masih ada. Aku hanya mementingkan diri sendiri, mementingkan kebahagiaan ku sendiri, memetingkan urusan ku sendiri. Dan jika urusan ku diutik oleh ayah atau Ibu, aku langsung marah dan tidak ingin bertemu dengannya. Hati ku pun mulai benci dengan ayah dan Ibu sebab mereka yang kepo tentang masalah ku.
Aku selalu membuatnya menangis tiap malam. Aku selalu membuatnya memikirkan aku. aku selalu membuat perasaanya tidak tenang karena aku. aku sudah membuat mereka kecewa. Menangis. Dan semuanya. Aku merasa aku adalah anak durhaka, anak yang tidak tau terimakasih kepada ayah dan Ibu, anak yang tidak tau malu, dan anak yang tidak pantas ada ditengah-tengah kebahgiaan ayah dan Ibu.
Namun.. kenapa, kenapa ayah dan Ibu masih mau menerima aku ditengah-tengah bahagianya ???
Azab pun Allah turunkan pada ku. sungguh sangat hancur aku. tak tau mau jadi apakah aku. dan tidak pernah mengerti apa tujuan ku selanjutnya. Aku sangat malu untuk bertaubat, akupun sungguh sangat malu untuk mendirikan sholat dan keinginan ku kembali, lebih-lebih aku sangat malu dengan ayah dan Ibu ku. aku pun tak tau harus bagaimana lagi dengan kehidupan ku. namun, hidayah Allah tak pernah bosan turun untuk selalu membimbing ku ke jalan yang lebih baik. Setiap sholat ku tak pernah bosan mengucap ampunan atas segala dosa ku yang sudah bertubi-tubi adanya. Dua gunung lebih rasanya dosa ku sudah melunjak. Entah, bagaimana aku harus menghapusnya. Rasanya sangat malu untuk menghadap sholat lebih kepada Allah.
Aku mencoba membenahi kejiwaan ku terlebih dahulu. Lalu aku bisa memulainya kembali seperti awal kembali.
“memang aku adalah anak durhaka yang tak pantas untuk mendapatkan kata MAAF dari semua orang terlebih dari ayah dan Ibu ku. apalagi sama Allah. Tak pantas rasanya aku untuk meminta ampunan dengan Allah. Dosa ku.. aku malu dan aku tidak tau ahrus berbuat apa. Aku hanya bisa diam ditengah-tengah azab ku. bahkan untuk melihat Al-Qur’an pun aku sudah sangat malu dan rasanya ingin menangis. Perlahan dengan kediaman ku, aku sholat wajib saja. Dan hanya sanggup menyentuh Al-Qur’an saja, mata ku ingin rasanya membuang asa air  yang telah membasahi kornea ku. namun aku selalu menguatkan diri ku sendiri. Aku meyakini diri ku sendiri, pasti suatu saat aku bisa mendirikan ibadah ku dan mendirikan kewajiban ku. dan aku bisa menjadi aku yang dulu yang selalu membahgaiakan ayah dan Ibu dengan cara ku sendiri”
Memasuki bulan ramadhan, aku mencoba untuk mengkonsenkan pikiran ku dan hati ku serta akan mensucikan kembali hati ku dari syaithon. Dengan terus adanya bimbingan rahmat dan hidayah Allah.
“aku memang bukanlah manusia sempurna yang mengahruskan aku selalu ada dijalan-Mu. Aku juga manusia biasa yang pasti mempunai masalah yang sangat banyak, bahkan snagat banyak melebihi semua orang didunia ini. Aku memang tidak bisa 100% taubat dalam jangka waktu yang cepat, namun setidaknya aku berusaha terus demi aku bisa selalu ada dipeluk-Mu, walau aku tau tu semua mustahil dan tidak akan perna mungkin jika aku bisa ada dipeluk-Mu. Namun aku selalu berusaha. Walaupun aku tau, maksiat aku tetap jalan. Namun, aku sudah mencoba untuk menahan syahwat dan bisa menjadi lebih baik dari yang dulu. Ya Allah, memang aku hanya bisa menulis semua kesalahan ku, namun aku niat setiap tulisan ku adalah isi hati ku dan setiap tulisan ku dalam kesendirian ku adlaah do’a yang aku panjatkan untuk-Mu. Ampuni dosa ku, dosa saudara-saudari ku, dosa ayah dan Ibu ku, dosa bapak-Ibu guru ku dari TK-SD-SMP-SMA-Universitas-Les, dosa alim ulama’, dosa kaum mukmin, muslimin-muslimat. Aamiin…”

Setiap manusia pasti mempunyai titik dimana dia akan merasakan kenikmatan, azab, menyadari kesalahannya, maksiat, dan semuanya. Namun tergantung, kembali pada diri setiap individunya kembali.
Tidak ada kata terlambat untuk memohon ampunan kepada Allah, meminta maaf pada kedua orang tua kita, meminta maaf pada sahabat-saudara-teman kita. Sesungguhnya Allah masih membuka pintu rahmat dan taubatnya bagi siapapun yang ingin bertaubat pada-Nya.
Kedurhakaan saya pada orang tua saya sangat besar. Jiwa saya tergoncang pada saat itu. Azab Allah, Allah turunkan untuk memberikan peringatan pada saya, hingga pada akhirnya saya kembali menjadi diri saya yang lalu. Walaupun saya tau, kembalinya diri saya tidak 100% penuh seperti yang dulu. Namun  saya sangat yakin, suatu saat saya akan bisa mengembalikannya 100%. Dengan bimbingan seorang yang Allah turunkan untuk saya, saya yakin saya bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Sama-sama, bareng-bareng do’a agar semuanya terhindar dari syahwat dan keinginan buruk. Bismillah.. sama-sama yakin bahwa Allah selalu ada disamping sisi kita dan Allah selalu membimbing kita dengan cara-Nya yang Dia berikan kepada kita. Aamiin J  

-Intania Dwi Mayangsari.02.Juli.2014-

1 komentar:

  1. Makanya jgn pernah melawan terhadap org tua, nanti durhaka.. oya, udah saya jwb pertanyaannya, mau MOS ya?

    BalasHapus