Sabtu, 04 Oktober 2014

Luka Bahagia ku

Aku tak pernah tau, menjadi apakah hubungan ini. Rasanya begitu sangat menyakitkan.

Berawal dari pertemuan yang singkat, dengan persahabatan yang cukup lama. Menjadi jembatan bersatunya keinginan untuk menyatukan perasaan. Tak pernah terduga jika berakhir sangat menyakitkan.

Ku merasakannya sendirian. Kadang hati ini ingin mengucapakan bahwa aku masih mencintai mu, namun rasanya tak pantas bagi ku untuk mengucapkan hal itu. Aku memang masih menyayangi mu, namun apa daya hati dan jiwa ini tak mampu tuk mengungapkan. Sering aku berharap jika kau mengatakan jika kau masih menyayangi ku, namun rasanya mustahil bagi ku.

Kini, aku sendiri lagi. Dengan kekosongan hati yang beralaskan kesakitan yang tak mampu terpendam. Aku hanya bisa memendam luka ini. Bahkan aku hanya mampu menjadikan luka yang entah kapan luka ini akan sembuh.

Aku hanya mampu diam dengan senyuman yang tak lazim ku keluarkan dari hati. Hanya untuk menutup luka.

Aku pun, hanya mampu menahan segala kerinduan ku. Hanyalah Do'a berlumur air mata, yang mampu ku panjatkan. Dan Allah lah yang akan menyampaikan.

Luka ini, sangatlah dalam. Namun, sabar dan ikhlas adalah salah satu jalan untuk ku agar lebih baik ☺

Jumat, 26 September 2014

Cinta Suci ku ☺

Jika yang terbaik adalah perpisahan demi kebaikan yang abadi. Maka perpisahan lah yang akan ku jadikan keputusan ku. Aku mengambil keputusan itu, bukan semqta karena aku sudah tak menyayangi mu. Justru, semakin aku menyayangi mu, semakinaku harus melepas mu.

Cinta tak mengharuskan bersatu dengan kata PACARAN. Namun cinta mampu terjaga jika memang benar serius dalam mencintainya. Cinta tak mengharuskan saling memiliki, menahan adalah jawabannya. Mengikuti hawa nafsu karena takutnya kehilangan seseorang itu, malah membuat seseorang itu hilang selamanya. Namun, menahan itu mampu menjaga segalanya.

Jika mampu menahan, insyaAllah suci lah cinta itu karena Allah. InsyaAllah aamiin ☺

Hanyalah diam yang mampu aku lakukan saat aku ingin mengungkapkan AKU MENCINTAI MU. Hanyalah do'a yang ku panjatkan saat perasaan ku berkata AKU MERINDUKAN MU.

Sakit memang rasanya, saat menahan dan memendam semuanya. Namun menjaga kesucian cinta itu sangatlah berat. Apalagi mencintai lawan jenis kita.

Menuruti hawa nafsu, hanyalah membuat kesakitan dan penyesalan dalam diri.

Cinta yang sebenarnya adalah...
Ketika kau mencintai kekasih mu, ia membuat iman mu mendewasa, taqwa mu bertambah, cinta mu kepada-Nya semakin bertambah.
Dan cinta ialah....
Adalah saat kau mencintai seseorang akhlak mu bertambah indah, jiwamu semakin damai, hati mu semakin bijak. Menjadi penasihat mu, saat kau melakukan maksiat, dia juga menjadi penyemangat mu saat kau sedih.

Cinta adalah dia yang mencintai kekurangan mu, bukan kelebihan mu.
Cinta adalah dia yang mencintai mu karena hati dan agama mu, bukan karena fisik dan pikiran mu.
Cinta adalah anugrah indah dari Allah untuk menjaga mu dengan segala syari'atnya, bukan dari segala tahta, dan kekayaannya.
Cinta adalah anugrah indah yang Allah berikan untuk penyempurna sunnah bukan penyempurna nafsu belaka.
Cinta adalah mencari kekurangan dan menyatukannya, bukan mencari persamaan.

Mampu menahan hawa nafsu dengan tetap menjaga kehormatan dan hati adalah jawabannya. Tak perlu berpacaran, namun langsung menikah dengan jala ta'aruf. Jika belum saatnya, maka bersabarlah dan tetap menjaga hati. InsyaAllah, semua akan suci dengan pada akhirnya pun terikat dengan ikatan suci. InsyaAllah, keputusan bersabar adalah keputusa yang paling baik.

Aku mencintai mu tapi aku hanya bisa menahannya didalam do'a dan diam ku. ☺

Selasa, 09 September 2014

Dear Teman

Apakah aku salah jika aku memberikan mu sebuah oelajaran tentang kehidupan ini ???
Apakah aku salah juga jika aku memberikan mu sebuah pelajaran tentang kejamnya kehidupan didunia ini agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ???
Apakah aku juga salah, jika aku memberikan mu kekuatan agar kamu kuat menjalani hidup yang keji ini ???

Aku tak sempurna, aku tidak pernah merasa jika apa saja yang aku buat selalu benar. Dihadapan mu, lebih-lebih. Aku tidak pernah merasa bahwa aku mampu mengarungi kehidupan ini. Aku juga manusia, aku juga membutuhkan teman dan seseorang yang mampu menemani ku. Namun, aku tidak ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik sendirian tanpa adanya teman.

Aku sadar jika apa yang telah aku lakukan salah dan tidak pantas seharusnya aku lakukan itu. Aku sadar juga apa yang aku pertindakan membuat hati mu sakit, tapi satu yang harus kamu ketahui JIKA AKU HANYA INGIN KAMU MENJADI LEBIH BAIK LAGI.

Kehidupan tak semudah yang difikirkan, MUNGKIN aku lebih pengalaman menapaki kehidupan dengan penuh kesakitan yang medalam. Aku menyadari bahwa kehidupan itu sangat menyakitkan, namun aku belajar dengan kesakitan itu.

Aku mendapati, ternyata kehidupan itu sangat susah dijalaninya. Tapi, aku tidak pernah menyerah dalam setiap kesulitan yang aku alami, sebab aku yakin dihari esok pasti akan ada masalah yang lebih besar.

Aku hanya inginkan kebaikan atas dirimu. Sebab aku tau, kedepan dalam kehidupan, pasti kamu bakalan susah menjalaninya dan bakalan kewalahan dalam menjalaninya. Namun, satu yang harus kamu tau, aku tidak akan selalu ada disamping mu.

Aku menyadari bahwa, ternyata aku tidak akan selamanya menggantung kan kehidupan ku dengan orang lain, tidak selamanya aku akan berontak atas segala masalah ku dengan orang lain. Aku sadar, waktu itu... Ternyata aku sangat seperti ANAK KECIL, YANG SEGALA KEMAUAN KU HARUS DITURUTI ORANG LAIN, AKU HARUS DIMENGERTI SELALU. Aku sadar, ternyata selama ini aku seperti itu, bahkan sampai detik ini. Aku belajar dari kehidupan ku yang seperti itu, aku juga belajar dan bertekat untuk tidak seperti itu lagi. Namun, aku manusia biasa yang mempunyai kekurangan yang sangat banyak. Pastii,,, aku akan melakukan hal itu lagi suatu saat. Aku memahami kamu yang seperti itu, tapi aku tidak ingin kamu seperti itu terus-terusan.

Kamu mempunyai kehidupan yang sangat panjang, dan lebih panjang dari aku. Dan kamu tidak mungkin akan terus-terusan mengandalkan orang lain untuk semua masalah kamu.

Aku hanya ingin kamu bisa belajar tentang kehidupan, bahwa tidak selamanya kehidupan, seperti apa yang kita ingin kan. Tidak mungkin pula kehidupan memberika kesempurnaan dalam diri kita.

Kehidupan semakin ke depan semakin rumit, semakin ke depan pula akan semakin menakutkan. Aku hanya tidak ingin nantinya, kamu tidak bisa memaknai atas segala ujian kehidupan. Aku juga tidak ingin kamu nantinya, akan terus berontak dengan orang lain, tidak bisa memikirkan apa yang seharusnya kamu lakukan.

Sifat bisa diubah jika ada kemauan dari diri sendiri dan pembuktian. Keegoisan, mampu dihalau jika kita terus bersabar dan mau untuk legowo.

Hidup, tidak akan menjadi seperti apa yang kita inginkan. Namun bagaimanakah kita seharusnya membuat kita nyaman dengan kehidupan. Menjadi diri sendiri adalah jawabannya. Menjauhi gengsi adalah hal utama.

Selasa, 15 Juli 2014

CINTA

Tak pernah aku mengerti apa arti "Cinta" yang sebenarnya. Sering aku mendengarnya, tapi aku tidak pernah bisa merasakannya. Sering aku mendengar dan melihat orang, jika ia tersakiti dengan pasangannya, dia menangis, merasa tidak ingin kehilangan, dan semuanya. Tapi, aku hanya bisa memberikan saran dan memberikan bahu ku untuk sahabat ku yang katanya "Tersakiti". Tanya ku dalam batin, "Apa itu tersakiti ???" Ingin rasanya aku merasakan yang namanya "Cinta", tapi mustahil rasanya aku bisa merasakan "Cinta". Namun, kini aku bisa merasakannya. Cinta, 5 huruf yang menjadi misteri. Kenapa aku bisa menyebut itu, karena CINTA, dia bisa membuat kita berbunga-bunga, tersenyum, bahagia, nyaman, dan CINTA juga bisa membuat kita tersaikiti, menangis, galau, dan bisa membuat kita sampai-sampai sakit fisik. 
Saat ini, kebanyakan orang memahami CINTA itu hanya untuk sesama lawan jenisnya saja, tanpa ada yang pernah tau CINTA kepada Orang Tuanya, CINTA kepada Rosulnya, sampai-sampai tidak ada yang tau arti CINTA kepada Allah SWT. Termasuk saya. 


Setelah saya mengerti artinya Suka dan Disukai, setelah saya mengerti Sayang dan Disayangi, Cinta dan Dicintai, dengan lawan jenis. 
Awalnya saya bisa berkomitmen dengan diri saya, kalau Ibadah, Menghafal Qur'an, Berbakti kepada Orang Tua itu adalah prioritas utama yang wajib dilakukan sebelum bisa SMSan dengan pasangan saya. Yaa.. Memang saya saat itu sudah berani mengambil resiko berpacaran dengan laki-laki. Namun, lama-lama saya merasakan suatu kendala dalam kehidupan saya. Perlahan-lahan, saya mulai menggampangkan Sholat wajib saya yang biasanya tepat waktu, perlahan-lahan saya mulai memberikan alasan yang banyak, ketika saya akan meninggalkan Sholat Malam saya, lama-kelamaan, tangan saya mulai enggan untuk mengambil Al-Qur'an yang ada disamping tempat tidur saya, dan lebih parahnya lagi bibir saya, pikiran saya, sampai akhlak saya pun perlahan mulai berubah. Seringnya saya menggampangkan sholat, menggampangkan hafalan saya, menggampangkan muraja'ah, menggampangkan sholat sunnah, menggampangkan bacaan Qur'an saya, menggampangkan tugas-tugas rumah saya, sampai-sampai menggampangkan kewajiban saya dalam menuntut ilmu.
Waktu itu, yang ada diotak saya adalah hanya menanti sms dari pasangan saya. 

Kerjaan saya hanya duduk, lihat tv, dan tidur di kasur, lihat handphone yang ada selalu pas disamping saya, jika setiap ada sms masuk, saya cepat-cepat membalasnya sampai-sampai saya meninggalkan segala kewajiban saya hanya untuk mendapati kabar dari dirinya. Hingga sampai pada saatnya, cekcok, ketidak samaan pendapat kita, emosi, keegoisan, melunjak sampai titik paling atas. Ketidaksamaan pun mulai terlihat diantara kita. Kami pun mulai seperti tidak bisa menyatukan perbedaan kita lagi, hingga pada akhirnya kita benar-benar terpisah, atau sering disebut putus. 


Sakit yang selalu saya rasakan adalah saya yang selalu dibohongi, saya yang selalu diremehkan, dan saya yang sama sekali tidak diperjuangkan olehnya. Sehingga saya berfikir, "ternyata seperti ini yaa, rasanya tersakiti. Yang mulanya aku hanya bisa mengelus tangan sahabat dan memberikan saran, sekarang, dan saat ini, aku benar-benar merasa tersakiti dan sangat sakit". Waktu itu, hanya senyuman yang bisa ku keluarkan diatas semua esakitan dan kesedihan ku. Tak lama, kita bersatu, lalu terpisah, lalu bersatu lagi dengan komitmen yang saya rasa, komitmennya belum bisa untuk benar-benar bisa dipegang. Beribu kali saya mendengar jika dia benar-benar menyayangi ku, namun sulit rasanya diri ini untuk mempercayainya lagi.


Saat aku terpisah darinya, saya mulai mengurung diri. Diam, dan hening, itu lah yang benar-benar saya butuhkan saat itu. Tak berani saya mendekatkan diri kepada Allah, malu rasanya diri ini jika saya mendekat kepada Allah. Yang ada difikiran saya adalah saat itu, Allah mengeluarkan murkanya, Allah menindas saya mati-matian karena akhlak saya yang mulai nyelenong ke arah yang salah.

 
Batin ini rasanya sulit untuk membuang semua Maksiat yang telah saya lakukan.Mata ini tak kuat rasanya menahan tangisan.Telinga ini tak kuat rasanya menahan jeritan batin yang terus membelenggu.Bibir ini tak kuat rasanya membuka untuk mengadukan, meminta maaf kepada Allah, Ayah dan Ibu, dan juga orang-orang yang sudah saya sakiti.Tangan ini sulit rasanya untuk menengadahkan permohonan maaf kepada Allah dan sangat susah untuk menyentuh bahkan membuka sampai bibir ini dan membacanya.Kaki ini sangat susah rasanya untuk melangkah ke arah atau jenjang yang lebih baik dari pada ini.Seluruh tubuh ini, sulit rasanya untuk mengakui semua kesalahan yang telah saya lakukan, pikiran dan batin saya selalu mencari alasan agar tubuh ini tidak lagi selalu tersalahkan.
Hanya diam yang bisa saya lakukan saat itu. Mencoba berkomitmen dengan diri sendiri, dan terus berusaha menjajakan kaki dan tubuh ini serta semua anggota tubuh ini, memaksanya agar bisa berjalan ke arah yang lebih baik. Namun sulit, tetapi disetiap do'a saya, tak bosan saya selalu meminta kepada Allah agar selalu membantu saya dengan malaikat-malaikatnya untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi.
Diam saya, bukan hanya sekedar diam dalam keheningan saja, namun diam saya juga terus menerjang ombak. Saya, selalu bilang dengan mantan kekasih saya agar saya bisa cepat melepasnya. Gagal, itulah yang selalu terjadi. Setiap saya mencoba untuk melupakan semuanya, yang ada dia yang selalu sms saya. Saya, lewat sms, selalu berkata jika saya ingin melupakan dia sampai-sampai melepaskan dia, namun dia yang tidak ingin melepaskan dan mempertahankan, hingga berujung pada suatu kejadian, dimana saya sudah benar-benar bisa melepasnya dan mengikhlaskannya, dia malah mengirim sebuah lagu, yang mempunyai isi, walaupun saya meninggalkan dia, dia akan tetap bertahan dengan satu perasaannya kepada saya, dan dia akan tetap menunggu saya, sampai saya mau kembali dengannya lagi. 
Karena disaat itu, saya sudah tidak bisa menangis dan juga saya sudah bisa untuk mengikhlaskan dia, sedikit perasaan untuknya saja, yang bisa saya berikan. Saat itu, alhamdulillah.. Saya sudah bisa bercanda lagi dengan keluarga saya, saya sudah mulai berani menyentuh Al-Qur'an walaupun belum bisa mengembalikan lagi hafalan saya, saya juga sudah mulai tepat waktu jika Sholat, dan luka yang dihati saya sudah mulai sedikit hilang, juga saya mulai belajar menumbuhkan lagi sholat malam saya.


Tak disangka, dengan perasaan yang netral, tiba-tiba dia datang setelah lagu itu. Kami pun, saling jujur satu sama lain, mengungkapkan isi hati kami masing. Mencoba untuk meredahkan emosi dan keegoisan kami satu sama lain. Alhasil, kami saling berkomitmen satu sama lain, jika kita akan tetap selalu bersama-sama tanpa harus ada hubungan yang namanya ber-Pacaran. Kami berkomitmen akan selalu menjaga hati kami, mejadikan hubungan ini adalah Ta'aruf satu sama lain, menjadikan moment untuk saling mengenal satu sama lain, menerima kekurangan dan menyatukan kelebihan, men-cocokkan perbedaan pendapat atau sifat satu sama lain, belajar bersama untuk menjadi yang lebih baik dan khususnya bagi diri sendiri dan juga untuk keluarga kami masing-masing.


Kedewasaan diantara kami pun mulai terbuka, sikap saling menerima atas kesibukan kami masing-masing pun mulai terbuka, terutama pada saya. Saya mulai bisa berfikir dewasa, dan menerima segala kesibukannya. Apalagi pasca kami bertemu disalah satu tempat. Tak ada rencana sebelumnya bagi kami untuk bertemu, tapi acara akhir tahun sekolah ketika kami SMP itulah yang memaksa kita untuk saling bertemu. Kurasa waktu yang singkat saat kita bertemu membuat sedikit kelegaan hati kami masing-masing. Tak banyak yang kita berbincangkan, hanyalah satu sampai dua patah kata saja yang bisa kami sampaikan. Mungkin karena kita malu-malu dan grogi, sehingga kami tidak tau, apa yang menjadi topik pembicaraan.
Tak lama, kami pun terpisah kembali dan tinggal menanti hari yang akan diberikan Allah lagi untuk pertemuan kita. Tidak berani rasanya jika kita bertemu dengan rencana kita sendiri. 

Pasca pertemuan kami. Kami pun menjalani hubungan semakin baik. Dengan kekurangan saya yang dulu dia tidak bisa menerima, saat ini dia benar-benar sangat menerima kekurangan saya dan mulai berjanji dengan dirinya tak akan dia mengulangi kejadian masa lalunya lagi. Dia benar-benar berjanji tidak akan membuat saya sakit hati lagi. Kami pun mulai berkomitmen dan berjanji, bahwasannya kami tidak akan saling meninggalkan, kami juga berjanji jika kita tidak akan pacaran sampai kita sama-sama dewasa satu sama lain. Meraih cita-cita adalah yang utama, tapi prioritas dan visi misi hidup kami adalah Ibadah nomer satu dan berbakti kepada Orang Tua adalah yang paling utama daripada yang utama. Kami juga mempunya rencana yang besar, yakni bisa menghafalkan Al-Qur'an, tapi entah apakah bisa atau tidak. He he he. Bismillah dan yakin deh :))

Nah, sahabat..Allah memang sangat melarang kita untuk berhubungan dengan lawan jenis secara berlebihan. Sebatas sahabat, jika memang kalian saling menyukai, tak ada salahnya kita untuk memberitahukan jika memang kita menyukainya. Tapi, lebih baiknya lagi jangan sampe yang namanya kelewatan sama yang namanya pacaran yaa... He he heSaling suka boleh, tapi kalo beneran mau tetepin sama dia orang... Berkomitmen saja. InsyaAllah... Menjaga sucinya perasaan suka sama manusia gapapa, tapi cintanya sama Allah, Rosul, dan Orang Tua harus dijaga dan dijadikan prioritas utama dalam kesuciannya.Ingat sahabat, murka Allah itu sangat keji dan menyakitkan bagi hambanya yang menduakannya. Al-Qur'an aja gamai diduakan kok. Apalagi Allah dan Rosulnya. Bersahabatlah saja dan menjaga komitmen. InsyaAllah, jika kalian bisa menjaga dan menahan hawa nafsu insyaAllah deh sahabat... bakalan Allah kabulin segala permintaan kita. aamiin..


Itu sedikit cerita dari saya, insyaAllah manfaat bagi yang membacanya, aamiin. Ambillah manfaatnya sahabat, astaghfirullahal'adzim, semoga tulisan ini bukan menjadi sebuah kesombongan, melainkan sebuah pembelajaran. aamiin..


Wassalamu'alaikum.Tania Dwi

Jumat, 04 Juli 2014

Ayah dan Ibu Ku

Aku terlahir didunia ini mustahil jika tanpa peran seorang ayah apalagi tanpa adanya ibu. Tanpa ayah aku tidak ada didunia ini, dan tanpa ibu aku pun tidak bisa melihat dunia ini. Jadi menurut ku, ayah dan ibu perannya sangat penting. Namun kalau menurut hadist Nabi, memang beliau sangat memuliakan seorang ibu, sebab jika diketahui faktanya memang peran seorang ibu sangatlah sangat banyak dan bahkan peran seorang ibu sangat mulia dihadapan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Ibu.. adalah satu panggilan yang tak asing. Ibu, Bunda, Mama, Umi, dan masih banyak lagi panggilan yang digunakan untuk menyeru panggilan sosok yang telah berjasa sangat kepada kita. Seorang ibu adalah sosok malaikat yang tidak mempunyai sayap. Ibu adalah seseorang yang sangat indah, anggun, cantik, baik, mempunyai perasaan lembut, perhatian, dan segala kebaikan pujian bagi Ibu.
Tanpa ibu, kita tidak bisa melihat dunia, tanpa ibu kita tidak bisa membau sejuknya dunia, tanpa ibu pula tidak bisa kita mengerti apa artinya dunia.
Ibu, adalah satu kata yang sangat menusuk hati.
Ibu berjuang penuh selama Sembilan bulan lamanya. Kesakitannya ketika ia mengandung kita, telah terkalahkan dengan bahagianya sosok janin yang ada dirahimnya. Ibu, selama mengandung Sembilan bulan tidak pernah mengeluh dengan kesakitannya ketika telah menginjak umur 7-9 bulan.
Awal seorang ibu setelah mengetahui jika ia mulai mual-mual, dia bingung, apakah yang sedang terjadi pada dirinya. Badannya sungguh sangat sakit, mual yang ia rasakan sangat aneh. Seperti masuk angin, tapi tidak. Ingin rasanya muntah, tapi yang keluar hanyalah ludah yang kental. Aneh rasanya didalam perutnya. Namun Ibu mulai melihat ke kalender, bergegas ke apotik untuk membeli tespek, apakah benar dugaannya atau tidak. Setelah ia menunggu hasil tespeknya, ternyata ia positif hamil. Dia tersenyum lebar, dan bersujud atas karunia Allah yang Dia berikan kepada Ibu. Bergegas ia mengambil air wudlu dan sholat sunnah dibarengi dengan sujud syukur kepada sang Ilahi, sebab Dia telah memberikan rezeki yang tak ternilai. Dalam sujudnya..
ya Allah, sungguh karunia dan rezeki yang tak ternilai adalah Engkau memberikan kami, hamba-Mu amanah yang sangat berharga, amanah yang sangat besar bagi kami. Rezeki yang selalu didambakan oleh setiap sepasang suami dan istri. Ya Allah, sungguh mulia rahmat dan rezeki yang Engkau berikan kepada kami. Engkau telah mempercayai kami, untuk merawat hamba-Mu yang mungil dan lucu ini. insyaAllah kami akan menjalankan amanah-Mu, kami akan menjalankan seluruh apa yang disunnahkan Nabi ku, yakni memberikan pendidikan yang baik dan sesuai dengan syari’at mu. Izinkan kami untuk merawatnya ya Allah”
Sungguh mulia dan bahagia hati seorang Ibu jika ia mendapatan karunia terbesar dari sang Pencipta, yakni Allah SWT. Kabar bahagia ini lalu Ibu kabarkan kepada suaminya.
Kebahagiaan tercuap selalu dari sepasang suami dan istri ini.
Kokohnya seorang Ibu untuk menjaga janin titipan Allah itu dengan baik da betul. Semua apa yang diperintahkan suaminya, Ibu pun selalu mentaatinya. Masuk umur 3-4 bulan, Ibu mulai merasa berat dengan perutnya. Tidur terlentang rasanya tidak enak, tidur miring rasanya juga tidak enak. Berat rasanya perut sang Ibu. Gumam hatinya dalam setiap sholat malamnya…
“inikah yang dirasakan setiap ibu saat janin yang ada dirahimnya mulai diberikan ruh oleh Allah. Ya Allah sungguh berat dan sakit. Namun, aku telah berjanji pada diri ku akan tetap bertahan. Kesakitan ini belum seberapa bagi ku. setelah ini pasti da kesakitan yang sangat lagi.. dan aku harus bisa melewatinya. Ya Allah bimbinglah hamba atas kesakitan ini ya Allah. Aamiin”
Sakit demi sakit Ibu mulai rasakan. Namun, tak pernah Ibu hiaraukan kesakitan itu. Ibu mulai merasa tidak enak lagi dalam perutnya. Setiap satu bulan sekali, Ibu selalu memeriksa perkembangan calon bayinya. Kebahagiaan pun selalu tercuap dari setiap sepasang suami istri jika Allah selalu memberikan perlindungan kepada calon bayinya. Sehat !! itulah yang selalu terucap dari mulut dokter spesialis kandungan.
Hari semakin maju. Kandungan pun sudah memasuki umur tujuh bulan. Ibu mulai merasakan kesakitan karena perutnya yang semakin membesar. Namun, peran ayah itu selalu mensupport Ibu.
Bulan sudah memasuki bulan ke delapan usia kehamilan. Ibu dan ayah mulai merencanakan pakaian, peralatan sang bayi. Pada usia ke delapan Ibu dan ayah pun mulai berbelanja semua perlengkapan bayi. Mulai dari pakaian, botol minumnya, tempat tidurnya, bantal, guling, dan semuanya. Memasuki usia bulan ke delapan akhir, Ibu mulai merasakan dahsyatnya sakit pada bagian vaginanya. Perutnya mulai berkontraksi sangat sakit. Namun, tasbih dan Al-Qur’an selalu ada digenggamnya.
Memasuki usia ke Sembilan bulan, sang Ibu mulai merasakan sakit. Ya.. air ketubannya mulai membedah perlahan-lahan. Peran seorang ayah, disinilah sangat dibutuhkan. Sewaktu-waktu sangat benar-benar Ibu butuhkan. Ketika merasakan kesakitan, Ibu menghibur dan menenangkan jiwanya dengan Iqro’ Al-Qur’an.
Tanggal yang dipastikan Ibu akan melahirkan pun tepat. Ibu pun mulai pendarahan hebat. Ayah pun, langsung membawanya ke rumah sakit. Memegang tangan Ibu, membacakan sholawat terus menerus tanpa henti agar Ibu tenang ketika melahirkan. Setibanya dirumah sakit, Ibu berusaha mengeluarkan aku dengan jeritan, dan ayah tetap memgang tangan Ibu dengan membacakan sholawat terus tanpa henti.
Gumam Allah dengan ku..
“engkau akan bersama malaikat yang akan selalu bersama mu dan akan selalu menemanimu, membimbingmu, menyayangimu, mengajari mu akhlak , dan dia yang akan mengajarimu bagaimana berkomunkasi dengan-Ku, dia juga yang akan merawatmu,menjagamu, dengan kelembutan hatinya yang tulus. Jangan kau sakiti hatinya patuhi segala perintahnya. Itu pesan-Ku untuk mu. Suatu saat kita akan bertemu kembali”
Dengan perjuangannya, aku pun keluar dari rahim Ibu. Aku mendengar Ibu dan ayah selalu mengucap kalimat sholawat. Setelah aku dimandikan, aku merasa tenang dengan adzan yang ayah kumandangkan dikuping ku. aku pun merasa tenang dalam tutupan mata ku yang belum bisa menatap ayah dan Ibu. Aku mendengar Ibu selalu membaca sholawat dan takbir. Namun, suara Ibu semakin tidak terdengar oleh ku, yaa karena aku dibawa oleh suster ke ruang incubator. Sebab aku belum bisa beradaptasi dengan suhu dunia luar.
Beberapa hari kemudian, aku diberi nama yang indah. Nama yang telah ayah dan Ibu sepakati untuk panggilan ku.
###
Badan ku pun semakin membesar. Jenjang sekolah TK, SD, SMP. Aku masih patuh dengan apa yang diperintahkan kedua orang tua ku. membantu pekerjaan rumah sudah menjadi rutinitas ku, belajar adalah keseharian ku, dan membuat bangga dan bahagia ayah dan Ibu sudah menjadi langganan akhlak ku untuk ayah dan Ibu. Keinginan ku untuk mengahafal Al-Qur’an, keinginan ku untuk belajar di Al-Ma’had pun sangat tinggi, keinginan ku untuk lebih memperdalam Ilmu agama ku pun bagaikan pohon yang semakin hari semakin tinggi. Kehidupan ku pun selalu aku warnai dengan kebaktian ku terhadap ayah dan terutama kepada Ibu. Apa yang Ibu inginkan semuanya pasti aku turuti. Ibu menyuruhku untuk ini, itu pun aku turuti. Tida ada yang absen dalam kehidupan ku untuk mentaati semua perintahnya. Masjid pun tidak pernah absen dari dhuhur sampai dhuhur menjelang lagi. Al-Qur’an selalu khatam dalam jangaka waktu satu bulan.
Namun..
Setelah aku menginjak tanah SMA. Aku mulai berubah. Aku bukan menjadi aku yangs elalu berbakti kepada Allah, dan perintah ayah dan Ibu. Aku selalu membuatnya menangis atas akhlak ku yang nggak karuan. Semua keinginan itu telah musnah dan rasanya itu adalah keinginan yang tak ternilai dan aneh serta keinginan yang sangat buruk bagi ku. belajar.. sangat jarang. Setiap hari aku hanya memegang hp, hp dan hp. Tak pernah absen untuk membantu pekerjaan rumah, bukan hal itu lagi, melainkan tak pernah absen untuk selalu maksiat bersama teman-teman.
Aku sungguh sangat sudah tidak memperdulikan ayah dan Ibu, tidak memperdulikan bacaan Al-Qur’an ku, tidak memperdulikan tanggung jawab ku membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tidak memperdulikan kekhawatiran dan keperdulian ayah dan Ibu, aku tidak memeprdulikan bagaimana cemasnya mereka dengan akhlak ku yang saat ini, bahkan yangs ebelumnya aku menjadikan sholat malam adalha kewajiban ku, kini menjadi seuatu barang yang wajib untuk ditinggalkan. Semuanya telah berbeda, yaa ssangat berbeda. Setelah aku mengenala apa itu PACARAN dan setelah aku mengenal indahnya maksiat.
Tak pernah terpungkiri sebelumnya, ternyata aku bisa menjadi sebodoh ini setelah aku mulai mengenal laki-laki, setelah aku berani pacaran dan maksiat.
Aku selalu telah menganggap ayah dan Ibu itu mati, padahal jasadnya jelas-jelas masih ada. Aku hanya mementingkan diri sendiri, mementingkan kebahagiaan ku sendiri, memetingkan urusan ku sendiri. Dan jika urusan ku diutik oleh ayah atau Ibu, aku langsung marah dan tidak ingin bertemu dengannya. Hati ku pun mulai benci dengan ayah dan Ibu sebab mereka yang kepo tentang masalah ku.
Aku selalu membuatnya menangis tiap malam. Aku selalu membuatnya memikirkan aku. aku selalu membuat perasaanya tidak tenang karena aku. aku sudah membuat mereka kecewa. Menangis. Dan semuanya. Aku merasa aku adalah anak durhaka, anak yang tidak tau terimakasih kepada ayah dan Ibu, anak yang tidak tau malu, dan anak yang tidak pantas ada ditengah-tengah kebahgiaan ayah dan Ibu.
Namun.. kenapa, kenapa ayah dan Ibu masih mau menerima aku ditengah-tengah bahagianya ???
Azab pun Allah turunkan pada ku. sungguh sangat hancur aku. tak tau mau jadi apakah aku. dan tidak pernah mengerti apa tujuan ku selanjutnya. Aku sangat malu untuk bertaubat, akupun sungguh sangat malu untuk mendirikan sholat dan keinginan ku kembali, lebih-lebih aku sangat malu dengan ayah dan Ibu ku. aku pun tak tau harus bagaimana lagi dengan kehidupan ku. namun, hidayah Allah tak pernah bosan turun untuk selalu membimbing ku ke jalan yang lebih baik. Setiap sholat ku tak pernah bosan mengucap ampunan atas segala dosa ku yang sudah bertubi-tubi adanya. Dua gunung lebih rasanya dosa ku sudah melunjak. Entah, bagaimana aku harus menghapusnya. Rasanya sangat malu untuk menghadap sholat lebih kepada Allah.
Aku mencoba membenahi kejiwaan ku terlebih dahulu. Lalu aku bisa memulainya kembali seperti awal kembali.
“memang aku adalah anak durhaka yang tak pantas untuk mendapatkan kata MAAF dari semua orang terlebih dari ayah dan Ibu ku. apalagi sama Allah. Tak pantas rasanya aku untuk meminta ampunan dengan Allah. Dosa ku.. aku malu dan aku tidak tau ahrus berbuat apa. Aku hanya bisa diam ditengah-tengah azab ku. bahkan untuk melihat Al-Qur’an pun aku sudah sangat malu dan rasanya ingin menangis. Perlahan dengan kediaman ku, aku sholat wajib saja. Dan hanya sanggup menyentuh Al-Qur’an saja, mata ku ingin rasanya membuang asa air  yang telah membasahi kornea ku. namun aku selalu menguatkan diri ku sendiri. Aku meyakini diri ku sendiri, pasti suatu saat aku bisa mendirikan ibadah ku dan mendirikan kewajiban ku. dan aku bisa menjadi aku yang dulu yang selalu membahgaiakan ayah dan Ibu dengan cara ku sendiri”
Memasuki bulan ramadhan, aku mencoba untuk mengkonsenkan pikiran ku dan hati ku serta akan mensucikan kembali hati ku dari syaithon. Dengan terus adanya bimbingan rahmat dan hidayah Allah.
“aku memang bukanlah manusia sempurna yang mengahruskan aku selalu ada dijalan-Mu. Aku juga manusia biasa yang pasti mempunai masalah yang sangat banyak, bahkan snagat banyak melebihi semua orang didunia ini. Aku memang tidak bisa 100% taubat dalam jangka waktu yang cepat, namun setidaknya aku berusaha terus demi aku bisa selalu ada dipeluk-Mu, walau aku tau tu semua mustahil dan tidak akan perna mungkin jika aku bisa ada dipeluk-Mu. Namun aku selalu berusaha. Walaupun aku tau, maksiat aku tetap jalan. Namun, aku sudah mencoba untuk menahan syahwat dan bisa menjadi lebih baik dari yang dulu. Ya Allah, memang aku hanya bisa menulis semua kesalahan ku, namun aku niat setiap tulisan ku adalah isi hati ku dan setiap tulisan ku dalam kesendirian ku adlaah do’a yang aku panjatkan untuk-Mu. Ampuni dosa ku, dosa saudara-saudari ku, dosa ayah dan Ibu ku, dosa bapak-Ibu guru ku dari TK-SD-SMP-SMA-Universitas-Les, dosa alim ulama’, dosa kaum mukmin, muslimin-muslimat. Aamiin…”

Setiap manusia pasti mempunyai titik dimana dia akan merasakan kenikmatan, azab, menyadari kesalahannya, maksiat, dan semuanya. Namun tergantung, kembali pada diri setiap individunya kembali.
Tidak ada kata terlambat untuk memohon ampunan kepada Allah, meminta maaf pada kedua orang tua kita, meminta maaf pada sahabat-saudara-teman kita. Sesungguhnya Allah masih membuka pintu rahmat dan taubatnya bagi siapapun yang ingin bertaubat pada-Nya.
Kedurhakaan saya pada orang tua saya sangat besar. Jiwa saya tergoncang pada saat itu. Azab Allah, Allah turunkan untuk memberikan peringatan pada saya, hingga pada akhirnya saya kembali menjadi diri saya yang lalu. Walaupun saya tau, kembalinya diri saya tidak 100% penuh seperti yang dulu. Namun  saya sangat yakin, suatu saat saya akan bisa mengembalikannya 100%. Dengan bimbingan seorang yang Allah turunkan untuk saya, saya yakin saya bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Sama-sama, bareng-bareng do’a agar semuanya terhindar dari syahwat dan keinginan buruk. Bismillah.. sama-sama yakin bahwa Allah selalu ada disamping sisi kita dan Allah selalu membimbing kita dengan cara-Nya yang Dia berikan kepada kita. Aamiin J  

-Intania Dwi Mayangsari.02.Juli.2014-