Selasa, 15 Juli 2014

CINTA

Tak pernah aku mengerti apa arti "Cinta" yang sebenarnya. Sering aku mendengarnya, tapi aku tidak pernah bisa merasakannya. Sering aku mendengar dan melihat orang, jika ia tersakiti dengan pasangannya, dia menangis, merasa tidak ingin kehilangan, dan semuanya. Tapi, aku hanya bisa memberikan saran dan memberikan bahu ku untuk sahabat ku yang katanya "Tersakiti". Tanya ku dalam batin, "Apa itu tersakiti ???" Ingin rasanya aku merasakan yang namanya "Cinta", tapi mustahil rasanya aku bisa merasakan "Cinta". Namun, kini aku bisa merasakannya. Cinta, 5 huruf yang menjadi misteri. Kenapa aku bisa menyebut itu, karena CINTA, dia bisa membuat kita berbunga-bunga, tersenyum, bahagia, nyaman, dan CINTA juga bisa membuat kita tersaikiti, menangis, galau, dan bisa membuat kita sampai-sampai sakit fisik. 
Saat ini, kebanyakan orang memahami CINTA itu hanya untuk sesama lawan jenisnya saja, tanpa ada yang pernah tau CINTA kepada Orang Tuanya, CINTA kepada Rosulnya, sampai-sampai tidak ada yang tau arti CINTA kepada Allah SWT. Termasuk saya. 


Setelah saya mengerti artinya Suka dan Disukai, setelah saya mengerti Sayang dan Disayangi, Cinta dan Dicintai, dengan lawan jenis. 
Awalnya saya bisa berkomitmen dengan diri saya, kalau Ibadah, Menghafal Qur'an, Berbakti kepada Orang Tua itu adalah prioritas utama yang wajib dilakukan sebelum bisa SMSan dengan pasangan saya. Yaa.. Memang saya saat itu sudah berani mengambil resiko berpacaran dengan laki-laki. Namun, lama-lama saya merasakan suatu kendala dalam kehidupan saya. Perlahan-lahan, saya mulai menggampangkan Sholat wajib saya yang biasanya tepat waktu, perlahan-lahan saya mulai memberikan alasan yang banyak, ketika saya akan meninggalkan Sholat Malam saya, lama-kelamaan, tangan saya mulai enggan untuk mengambil Al-Qur'an yang ada disamping tempat tidur saya, dan lebih parahnya lagi bibir saya, pikiran saya, sampai akhlak saya pun perlahan mulai berubah. Seringnya saya menggampangkan sholat, menggampangkan hafalan saya, menggampangkan muraja'ah, menggampangkan sholat sunnah, menggampangkan bacaan Qur'an saya, menggampangkan tugas-tugas rumah saya, sampai-sampai menggampangkan kewajiban saya dalam menuntut ilmu.
Waktu itu, yang ada diotak saya adalah hanya menanti sms dari pasangan saya. 

Kerjaan saya hanya duduk, lihat tv, dan tidur di kasur, lihat handphone yang ada selalu pas disamping saya, jika setiap ada sms masuk, saya cepat-cepat membalasnya sampai-sampai saya meninggalkan segala kewajiban saya hanya untuk mendapati kabar dari dirinya. Hingga sampai pada saatnya, cekcok, ketidak samaan pendapat kita, emosi, keegoisan, melunjak sampai titik paling atas. Ketidaksamaan pun mulai terlihat diantara kita. Kami pun mulai seperti tidak bisa menyatukan perbedaan kita lagi, hingga pada akhirnya kita benar-benar terpisah, atau sering disebut putus. 


Sakit yang selalu saya rasakan adalah saya yang selalu dibohongi, saya yang selalu diremehkan, dan saya yang sama sekali tidak diperjuangkan olehnya. Sehingga saya berfikir, "ternyata seperti ini yaa, rasanya tersakiti. Yang mulanya aku hanya bisa mengelus tangan sahabat dan memberikan saran, sekarang, dan saat ini, aku benar-benar merasa tersakiti dan sangat sakit". Waktu itu, hanya senyuman yang bisa ku keluarkan diatas semua esakitan dan kesedihan ku. Tak lama, kita bersatu, lalu terpisah, lalu bersatu lagi dengan komitmen yang saya rasa, komitmennya belum bisa untuk benar-benar bisa dipegang. Beribu kali saya mendengar jika dia benar-benar menyayangi ku, namun sulit rasanya diri ini untuk mempercayainya lagi.


Saat aku terpisah darinya, saya mulai mengurung diri. Diam, dan hening, itu lah yang benar-benar saya butuhkan saat itu. Tak berani saya mendekatkan diri kepada Allah, malu rasanya diri ini jika saya mendekat kepada Allah. Yang ada difikiran saya adalah saat itu, Allah mengeluarkan murkanya, Allah menindas saya mati-matian karena akhlak saya yang mulai nyelenong ke arah yang salah.

 
Batin ini rasanya sulit untuk membuang semua Maksiat yang telah saya lakukan.Mata ini tak kuat rasanya menahan tangisan.Telinga ini tak kuat rasanya menahan jeritan batin yang terus membelenggu.Bibir ini tak kuat rasanya membuka untuk mengadukan, meminta maaf kepada Allah, Ayah dan Ibu, dan juga orang-orang yang sudah saya sakiti.Tangan ini sulit rasanya untuk menengadahkan permohonan maaf kepada Allah dan sangat susah untuk menyentuh bahkan membuka sampai bibir ini dan membacanya.Kaki ini sangat susah rasanya untuk melangkah ke arah atau jenjang yang lebih baik dari pada ini.Seluruh tubuh ini, sulit rasanya untuk mengakui semua kesalahan yang telah saya lakukan, pikiran dan batin saya selalu mencari alasan agar tubuh ini tidak lagi selalu tersalahkan.
Hanya diam yang bisa saya lakukan saat itu. Mencoba berkomitmen dengan diri sendiri, dan terus berusaha menjajakan kaki dan tubuh ini serta semua anggota tubuh ini, memaksanya agar bisa berjalan ke arah yang lebih baik. Namun sulit, tetapi disetiap do'a saya, tak bosan saya selalu meminta kepada Allah agar selalu membantu saya dengan malaikat-malaikatnya untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi.
Diam saya, bukan hanya sekedar diam dalam keheningan saja, namun diam saya juga terus menerjang ombak. Saya, selalu bilang dengan mantan kekasih saya agar saya bisa cepat melepasnya. Gagal, itulah yang selalu terjadi. Setiap saya mencoba untuk melupakan semuanya, yang ada dia yang selalu sms saya. Saya, lewat sms, selalu berkata jika saya ingin melupakan dia sampai-sampai melepaskan dia, namun dia yang tidak ingin melepaskan dan mempertahankan, hingga berujung pada suatu kejadian, dimana saya sudah benar-benar bisa melepasnya dan mengikhlaskannya, dia malah mengirim sebuah lagu, yang mempunyai isi, walaupun saya meninggalkan dia, dia akan tetap bertahan dengan satu perasaannya kepada saya, dan dia akan tetap menunggu saya, sampai saya mau kembali dengannya lagi. 
Karena disaat itu, saya sudah tidak bisa menangis dan juga saya sudah bisa untuk mengikhlaskan dia, sedikit perasaan untuknya saja, yang bisa saya berikan. Saat itu, alhamdulillah.. Saya sudah bisa bercanda lagi dengan keluarga saya, saya sudah mulai berani menyentuh Al-Qur'an walaupun belum bisa mengembalikan lagi hafalan saya, saya juga sudah mulai tepat waktu jika Sholat, dan luka yang dihati saya sudah mulai sedikit hilang, juga saya mulai belajar menumbuhkan lagi sholat malam saya.


Tak disangka, dengan perasaan yang netral, tiba-tiba dia datang setelah lagu itu. Kami pun, saling jujur satu sama lain, mengungkapkan isi hati kami masing. Mencoba untuk meredahkan emosi dan keegoisan kami satu sama lain. Alhasil, kami saling berkomitmen satu sama lain, jika kita akan tetap selalu bersama-sama tanpa harus ada hubungan yang namanya ber-Pacaran. Kami berkomitmen akan selalu menjaga hati kami, mejadikan hubungan ini adalah Ta'aruf satu sama lain, menjadikan moment untuk saling mengenal satu sama lain, menerima kekurangan dan menyatukan kelebihan, men-cocokkan perbedaan pendapat atau sifat satu sama lain, belajar bersama untuk menjadi yang lebih baik dan khususnya bagi diri sendiri dan juga untuk keluarga kami masing-masing.


Kedewasaan diantara kami pun mulai terbuka, sikap saling menerima atas kesibukan kami masing-masing pun mulai terbuka, terutama pada saya. Saya mulai bisa berfikir dewasa, dan menerima segala kesibukannya. Apalagi pasca kami bertemu disalah satu tempat. Tak ada rencana sebelumnya bagi kami untuk bertemu, tapi acara akhir tahun sekolah ketika kami SMP itulah yang memaksa kita untuk saling bertemu. Kurasa waktu yang singkat saat kita bertemu membuat sedikit kelegaan hati kami masing-masing. Tak banyak yang kita berbincangkan, hanyalah satu sampai dua patah kata saja yang bisa kami sampaikan. Mungkin karena kita malu-malu dan grogi, sehingga kami tidak tau, apa yang menjadi topik pembicaraan.
Tak lama, kami pun terpisah kembali dan tinggal menanti hari yang akan diberikan Allah lagi untuk pertemuan kita. Tidak berani rasanya jika kita bertemu dengan rencana kita sendiri. 

Pasca pertemuan kami. Kami pun menjalani hubungan semakin baik. Dengan kekurangan saya yang dulu dia tidak bisa menerima, saat ini dia benar-benar sangat menerima kekurangan saya dan mulai berjanji dengan dirinya tak akan dia mengulangi kejadian masa lalunya lagi. Dia benar-benar berjanji tidak akan membuat saya sakit hati lagi. Kami pun mulai berkomitmen dan berjanji, bahwasannya kami tidak akan saling meninggalkan, kami juga berjanji jika kita tidak akan pacaran sampai kita sama-sama dewasa satu sama lain. Meraih cita-cita adalah yang utama, tapi prioritas dan visi misi hidup kami adalah Ibadah nomer satu dan berbakti kepada Orang Tua adalah yang paling utama daripada yang utama. Kami juga mempunya rencana yang besar, yakni bisa menghafalkan Al-Qur'an, tapi entah apakah bisa atau tidak. He he he. Bismillah dan yakin deh :))

Nah, sahabat..Allah memang sangat melarang kita untuk berhubungan dengan lawan jenis secara berlebihan. Sebatas sahabat, jika memang kalian saling menyukai, tak ada salahnya kita untuk memberitahukan jika memang kita menyukainya. Tapi, lebih baiknya lagi jangan sampe yang namanya kelewatan sama yang namanya pacaran yaa... He he heSaling suka boleh, tapi kalo beneran mau tetepin sama dia orang... Berkomitmen saja. InsyaAllah... Menjaga sucinya perasaan suka sama manusia gapapa, tapi cintanya sama Allah, Rosul, dan Orang Tua harus dijaga dan dijadikan prioritas utama dalam kesuciannya.Ingat sahabat, murka Allah itu sangat keji dan menyakitkan bagi hambanya yang menduakannya. Al-Qur'an aja gamai diduakan kok. Apalagi Allah dan Rosulnya. Bersahabatlah saja dan menjaga komitmen. InsyaAllah, jika kalian bisa menjaga dan menahan hawa nafsu insyaAllah deh sahabat... bakalan Allah kabulin segala permintaan kita. aamiin..


Itu sedikit cerita dari saya, insyaAllah manfaat bagi yang membacanya, aamiin. Ambillah manfaatnya sahabat, astaghfirullahal'adzim, semoga tulisan ini bukan menjadi sebuah kesombongan, melainkan sebuah pembelajaran. aamiin..


Wassalamu'alaikum.Tania Dwi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar