Menceritakan tentang pengalaman hidup yang bisa menjadikan bahan pembelajaran bagi sahabat-sahabat pembaca
Selasa, 15 Juli 2014
CINTA
Tak pernah aku mengerti apa arti "Cinta" yang sebenarnya. Sering aku mendengarnya, tapi aku tidak pernah bisa merasakannya. Sering aku mendengar dan melihat orang, jika ia tersakiti dengan pasangannya, dia menangis, merasa tidak ingin kehilangan, dan semuanya. Tapi, aku hanya bisa memberikan saran dan memberikan bahu ku untuk sahabat ku yang katanya "Tersakiti". Tanya ku dalam batin, "Apa itu tersakiti ???" Ingin rasanya aku merasakan yang namanya "Cinta", tapi mustahil rasanya aku bisa merasakan "Cinta". Namun, kini aku bisa merasakannya. Cinta, 5 huruf yang menjadi misteri. Kenapa aku bisa menyebut itu, karena CINTA, dia bisa membuat kita berbunga-bunga, tersenyum, bahagia, nyaman, dan CINTA juga bisa membuat kita tersaikiti, menangis, galau, dan bisa membuat kita sampai-sampai sakit fisik.
Jumat, 04 Juli 2014
Ayah dan Ibu Ku
Aku terlahir
didunia ini mustahil jika tanpa peran seorang ayah apalagi tanpa adanya ibu.
Tanpa ayah aku tidak ada didunia ini, dan tanpa ibu aku pun tidak bisa melihat
dunia ini. Jadi menurut ku, ayah dan ibu perannya sangat penting. Namun kalau
menurut hadist Nabi, memang beliau sangat memuliakan seorang ibu, sebab jika
diketahui faktanya memang peran seorang ibu sangatlah sangat banyak dan bahkan
peran seorang ibu sangat mulia dihadapan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Ibu.. adalah
satu panggilan yang tak asing. Ibu, Bunda, Mama, Umi, dan masih banyak lagi
panggilan yang digunakan untuk menyeru panggilan sosok yang telah berjasa
sangat kepada kita. Seorang ibu adalah sosok malaikat yang tidak mempunyai
sayap. Ibu adalah seseorang yang sangat indah, anggun, cantik, baik, mempunyai
perasaan lembut, perhatian, dan segala kebaikan pujian bagi Ibu.
Tanpa ibu,
kita tidak bisa melihat dunia, tanpa ibu kita tidak bisa membau sejuknya dunia,
tanpa ibu pula tidak bisa kita mengerti apa artinya dunia.
Ibu, adalah
satu kata yang sangat menusuk hati.
Ibu berjuang
penuh selama Sembilan bulan lamanya. Kesakitannya ketika ia mengandung kita,
telah terkalahkan dengan bahagianya sosok janin yang ada dirahimnya. Ibu,
selama mengandung Sembilan bulan tidak pernah mengeluh dengan kesakitannya
ketika telah menginjak umur 7-9 bulan.
Awal seorang
ibu setelah mengetahui jika ia mulai mual-mual, dia bingung, apakah yang sedang
terjadi pada dirinya. Badannya sungguh sangat sakit, mual yang ia rasakan
sangat aneh. Seperti masuk angin, tapi tidak. Ingin rasanya muntah, tapi yang
keluar hanyalah ludah yang kental. Aneh rasanya didalam perutnya. Namun Ibu
mulai melihat ke kalender, bergegas ke apotik untuk membeli tespek, apakah
benar dugaannya atau tidak. Setelah ia menunggu hasil tespeknya, ternyata ia
positif hamil. Dia tersenyum lebar, dan bersujud atas karunia Allah yang Dia
berikan kepada Ibu. Bergegas ia mengambil air wudlu dan sholat sunnah dibarengi
dengan sujud syukur kepada sang Ilahi, sebab Dia telah memberikan rezeki yang
tak ternilai. Dalam sujudnya..
“ya Allah, sungguh karunia dan rezeki yang
tak ternilai adalah Engkau memberikan kami, hamba-Mu amanah yang sangat
berharga, amanah yang sangat besar bagi kami. Rezeki yang selalu didambakan
oleh setiap sepasang suami dan istri. Ya Allah, sungguh mulia rahmat dan rezeki
yang Engkau berikan kepada kami. Engkau telah mempercayai kami, untuk merawat
hamba-Mu yang mungil dan lucu ini. insyaAllah kami akan menjalankan amanah-Mu,
kami akan menjalankan seluruh apa yang disunnahkan Nabi ku, yakni memberikan
pendidikan yang baik dan sesuai dengan syari’at mu. Izinkan kami untuk
merawatnya ya Allah”
Sungguh mulia
dan bahagia hati seorang Ibu jika ia mendapatan karunia terbesar dari sang
Pencipta, yakni Allah SWT. Kabar bahagia ini lalu Ibu kabarkan kepada suaminya.
Kebahagiaan
tercuap selalu dari sepasang suami dan istri ini.
Kokohnya
seorang Ibu untuk menjaga janin titipan Allah itu dengan baik da betul. Semua
apa yang diperintahkan suaminya, Ibu pun selalu mentaatinya. Masuk umur 3-4
bulan, Ibu mulai merasa berat dengan perutnya. Tidur terlentang rasanya tidak
enak, tidur miring rasanya juga tidak enak. Berat rasanya perut sang Ibu. Gumam
hatinya dalam setiap sholat malamnya…
“inikah yang
dirasakan setiap ibu saat janin yang ada dirahimnya mulai diberikan ruh oleh
Allah. Ya Allah sungguh berat dan sakit. Namun, aku telah berjanji pada diri ku
akan tetap bertahan. Kesakitan ini belum seberapa bagi ku. setelah ini pasti da
kesakitan yang sangat lagi.. dan aku harus bisa melewatinya. Ya Allah
bimbinglah hamba atas kesakitan ini ya Allah. Aamiin”
Sakit demi
sakit Ibu mulai rasakan. Namun, tak pernah Ibu hiaraukan kesakitan itu. Ibu
mulai merasa tidak enak lagi dalam perutnya. Setiap satu bulan sekali, Ibu
selalu memeriksa perkembangan calon bayinya. Kebahagiaan pun selalu tercuap
dari setiap sepasang suami istri jika Allah selalu memberikan perlindungan
kepada calon bayinya. Sehat !! itulah yang selalu terucap dari mulut dokter
spesialis kandungan.
Hari semakin
maju. Kandungan pun sudah memasuki umur tujuh bulan. Ibu mulai merasakan
kesakitan karena perutnya yang semakin membesar. Namun, peran ayah itu selalu mensupport
Ibu.
Bulan sudah
memasuki bulan ke delapan usia kehamilan. Ibu dan ayah mulai merencanakan
pakaian, peralatan sang bayi. Pada usia ke delapan Ibu dan ayah pun mulai
berbelanja semua perlengkapan bayi. Mulai dari pakaian, botol minumnya, tempat
tidurnya, bantal, guling, dan semuanya. Memasuki usia bulan ke delapan akhir, Ibu
mulai merasakan dahsyatnya sakit pada bagian vaginanya. Perutnya mulai
berkontraksi sangat sakit. Namun, tasbih dan Al-Qur’an selalu ada digenggamnya.
Memasuki usia
ke Sembilan bulan, sang Ibu mulai merasakan sakit. Ya.. air ketubannya mulai
membedah perlahan-lahan. Peran seorang ayah, disinilah sangat dibutuhkan.
Sewaktu-waktu sangat benar-benar Ibu butuhkan. Ketika merasakan kesakitan, Ibu
menghibur dan menenangkan jiwanya dengan Iqro’ Al-Qur’an.
Tanggal yang
dipastikan Ibu akan melahirkan pun tepat. Ibu pun mulai pendarahan hebat. Ayah
pun, langsung membawanya ke rumah sakit. Memegang tangan Ibu, membacakan
sholawat terus menerus tanpa henti agar Ibu tenang ketika melahirkan. Setibanya
dirumah sakit, Ibu berusaha mengeluarkan aku dengan jeritan, dan ayah tetap
memgang tangan Ibu dengan membacakan sholawat terus tanpa henti.
Gumam Allah
dengan ku..
“engkau akan
bersama malaikat yang akan selalu bersama mu dan akan selalu menemanimu,
membimbingmu, menyayangimu, mengajari mu akhlak , dan dia yang akan mengajarimu
bagaimana berkomunkasi dengan-Ku, dia juga yang akan merawatmu,menjagamu,
dengan kelembutan hatinya yang tulus. Jangan kau sakiti hatinya patuhi segala
perintahnya. Itu pesan-Ku untuk mu. Suatu saat kita akan bertemu kembali”
Dengan
perjuangannya, aku pun keluar dari rahim Ibu. Aku mendengar Ibu dan ayah selalu
mengucap kalimat sholawat. Setelah aku dimandikan, aku merasa tenang dengan
adzan yang ayah kumandangkan dikuping ku. aku pun merasa tenang dalam tutupan
mata ku yang belum bisa menatap ayah dan Ibu. Aku mendengar Ibu selalu membaca
sholawat dan takbir. Namun, suara Ibu semakin tidak terdengar oleh ku, yaa
karena aku dibawa oleh suster ke ruang incubator. Sebab aku belum bisa
beradaptasi dengan suhu dunia luar.
Beberapa hari
kemudian, aku diberi nama yang indah. Nama yang telah ayah dan Ibu sepakati
untuk panggilan ku.
###
Badan ku pun
semakin membesar. Jenjang sekolah TK, SD, SMP. Aku masih patuh dengan apa yang
diperintahkan kedua orang tua ku. membantu pekerjaan rumah sudah menjadi
rutinitas ku, belajar adalah keseharian ku, dan membuat bangga dan bahagia ayah
dan Ibu sudah menjadi langganan akhlak ku untuk ayah dan Ibu. Keinginan ku
untuk mengahafal Al-Qur’an, keinginan ku untuk belajar di Al-Ma’had pun sangat
tinggi, keinginan ku untuk lebih memperdalam Ilmu agama ku pun bagaikan pohon
yang semakin hari semakin tinggi. Kehidupan ku pun selalu aku warnai dengan
kebaktian ku terhadap ayah dan terutama kepada Ibu. Apa yang Ibu inginkan
semuanya pasti aku turuti. Ibu menyuruhku untuk ini, itu pun aku turuti. Tida
ada yang absen dalam kehidupan ku untuk mentaati semua perintahnya. Masjid pun
tidak pernah absen dari dhuhur sampai dhuhur menjelang lagi. Al-Qur’an selalu
khatam dalam jangaka waktu satu bulan.
Namun..
Setelah aku
menginjak tanah SMA. Aku mulai berubah. Aku bukan menjadi aku yangs elalu
berbakti kepada Allah, dan perintah ayah dan Ibu. Aku selalu membuatnya
menangis atas akhlak ku yang nggak karuan. Semua keinginan itu telah musnah dan
rasanya itu adalah keinginan yang tak ternilai dan aneh serta keinginan yang
sangat buruk bagi ku. belajar.. sangat jarang. Setiap hari aku hanya memegang
hp, hp dan hp. Tak pernah absen untuk membantu pekerjaan rumah, bukan hal itu
lagi, melainkan tak pernah absen untuk selalu maksiat bersama teman-teman.
Aku sungguh
sangat sudah tidak memperdulikan ayah dan Ibu, tidak memperdulikan bacaan
Al-Qur’an ku, tidak memperdulikan tanggung jawab ku membantu menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga, tidak memperdulikan kekhawatiran dan keperdulian ayah
dan Ibu, aku tidak memeprdulikan bagaimana cemasnya mereka dengan akhlak ku
yang saat ini, bahkan yangs ebelumnya aku menjadikan sholat malam adalha
kewajiban ku, kini menjadi seuatu barang yang wajib untuk ditinggalkan.
Semuanya telah berbeda, yaa ssangat berbeda. Setelah aku mengenala apa itu
PACARAN dan setelah aku mengenal indahnya maksiat.
Tak pernah
terpungkiri sebelumnya, ternyata aku bisa menjadi sebodoh ini setelah aku mulai
mengenal laki-laki, setelah aku berani pacaran dan maksiat.
Aku selalu
telah menganggap ayah dan Ibu itu mati, padahal jasadnya jelas-jelas masih ada.
Aku hanya mementingkan diri sendiri, mementingkan kebahagiaan ku sendiri,
memetingkan urusan ku sendiri. Dan jika urusan ku diutik oleh ayah atau Ibu,
aku langsung marah dan tidak ingin bertemu dengannya. Hati ku pun mulai benci
dengan ayah dan Ibu sebab mereka yang kepo tentang masalah ku.
Aku selalu
membuatnya menangis tiap malam. Aku selalu membuatnya memikirkan aku. aku
selalu membuat perasaanya tidak tenang karena aku. aku sudah membuat mereka
kecewa. Menangis. Dan semuanya. Aku merasa aku adalah anak durhaka, anak yang
tidak tau terimakasih kepada ayah dan Ibu, anak yang tidak tau malu, dan anak
yang tidak pantas ada ditengah-tengah kebahgiaan ayah dan Ibu.
Namun..
kenapa, kenapa ayah dan Ibu masih mau menerima aku ditengah-tengah bahagianya
???
Azab pun
Allah turunkan pada ku. sungguh sangat hancur aku. tak tau mau jadi apakah aku.
dan tidak pernah mengerti apa tujuan ku selanjutnya. Aku sangat malu untuk
bertaubat, akupun sungguh sangat malu untuk mendirikan sholat dan keinginan ku
kembali, lebih-lebih aku sangat malu dengan ayah dan Ibu ku. aku pun tak tau
harus bagaimana lagi dengan kehidupan ku. namun, hidayah Allah tak pernah bosan
turun untuk selalu membimbing ku ke jalan yang lebih baik. Setiap sholat ku tak
pernah bosan mengucap ampunan atas segala dosa ku yang sudah bertubi-tubi
adanya. Dua gunung lebih rasanya dosa ku sudah melunjak. Entah, bagaimana aku
harus menghapusnya. Rasanya sangat malu untuk menghadap sholat lebih kepada Allah.
Aku mencoba
membenahi kejiwaan ku terlebih dahulu. Lalu aku bisa memulainya kembali seperti
awal kembali.
“memang aku
adalah anak durhaka yang tak pantas untuk mendapatkan kata MAAF dari semua
orang terlebih dari ayah dan Ibu ku. apalagi sama Allah. Tak pantas rasanya aku
untuk meminta ampunan dengan Allah. Dosa ku.. aku malu dan aku tidak tau ahrus
berbuat apa. Aku hanya bisa diam ditengah-tengah azab ku. bahkan untuk melihat
Al-Qur’an pun aku sudah sangat malu dan rasanya ingin menangis. Perlahan dengan
kediaman ku, aku sholat wajib saja. Dan hanya sanggup menyentuh Al-Qur’an saja,
mata ku ingin rasanya membuang asa air
yang telah membasahi kornea ku. namun aku selalu menguatkan diri ku
sendiri. Aku meyakini diri ku sendiri, pasti suatu saat aku bisa mendirikan
ibadah ku dan mendirikan kewajiban ku. dan aku bisa menjadi aku yang dulu yang
selalu membahgaiakan ayah dan Ibu dengan cara ku sendiri”
Memasuki
bulan ramadhan, aku mencoba untuk mengkonsenkan pikiran ku dan hati ku serta
akan mensucikan kembali hati ku dari syaithon. Dengan terus adanya bimbingan
rahmat dan hidayah Allah.
“aku memang
bukanlah manusia sempurna yang mengahruskan aku selalu ada dijalan-Mu. Aku juga
manusia biasa yang pasti mempunai masalah yang sangat banyak, bahkan snagat
banyak melebihi semua orang didunia ini. Aku memang tidak bisa 100% taubat
dalam jangka waktu yang cepat, namun setidaknya aku berusaha terus demi aku
bisa selalu ada dipeluk-Mu, walau aku tau tu semua mustahil dan tidak akan
perna mungkin jika aku bisa ada dipeluk-Mu. Namun aku selalu berusaha. Walaupun
aku tau, maksiat aku tetap jalan. Namun, aku sudah mencoba untuk menahan
syahwat dan bisa menjadi lebih baik dari yang dulu. Ya Allah, memang aku hanya
bisa menulis semua kesalahan ku, namun aku niat setiap tulisan ku adalah isi
hati ku dan setiap tulisan ku dalam kesendirian ku adlaah do’a yang aku
panjatkan untuk-Mu. Ampuni dosa ku, dosa saudara-saudari ku, dosa ayah dan Ibu
ku, dosa bapak-Ibu guru ku dari TK-SD-SMP-SMA-Universitas-Les, dosa alim
ulama’, dosa kaum mukmin, muslimin-muslimat. Aamiin…”
Setiap
manusia pasti mempunyai titik dimana dia akan merasakan kenikmatan, azab,
menyadari kesalahannya, maksiat, dan semuanya. Namun tergantung, kembali pada
diri setiap individunya kembali.
Tidak ada
kata terlambat untuk memohon ampunan kepada Allah, meminta maaf pada kedua
orang tua kita, meminta maaf pada sahabat-saudara-teman kita. Sesungguhnya
Allah masih membuka pintu rahmat dan taubatnya bagi siapapun yang ingin
bertaubat pada-Nya.
Kedurhakaan
saya pada orang tua saya sangat besar. Jiwa saya tergoncang pada saat itu. Azab
Allah, Allah turunkan untuk memberikan peringatan pada saya, hingga pada
akhirnya saya kembali menjadi diri saya yang lalu. Walaupun saya tau,
kembalinya diri saya tidak 100% penuh seperti yang dulu. Namun saya sangat yakin, suatu saat saya akan bisa
mengembalikannya 100%. Dengan bimbingan seorang yang Allah turunkan untuk saya,
saya yakin saya bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Sama-sama,
bareng-bareng do’a agar semuanya terhindar dari syahwat dan keinginan buruk.
Bismillah.. sama-sama yakin bahwa Allah selalu ada disamping sisi kita dan
Allah selalu membimbing kita dengan cara-Nya yang Dia berikan kepada kita.
Aamiin J
-Intania Dwi Mayangsari.02.Juli.2014-
Langganan:
Postingan (Atom)